Rabu, 17 Agustus 2011

Dentuman besar -perkembangan

Teori dentuman besar dikembangkan berdasarkan pengamatan pada stuktur
alam semesta beserta pertimbangan teoritisnya. Pada tahun 1912, Vesto
Slipher yang pertama mengukur Efek
Doppler
pada "nebula
spiral" (nebula spiral merupakan istilah lama untuk galaksi spiral),
dan kemudian diketahui bahwa hampir semua nebula-nebula itu menjauhi
bumi. Ia tidak berpikir lebih jauh lagi mengenai implikasi fakta ini,
dan sebenarnya pada saat itu, terdapat kontroversi apakah nebula-nebula
ini adalah "pulau semesta" yang berada di luar galaksi Bima
Sakti
. Sepuluh tahun
kemudian, Alexander Friedmann, seorang kosmologis dan matematikawan
rusia,
menurunkan persamaan
Friedmann dari persamaan relativitas umum Albert Einstein. Persamaan ini menunjukkan bahwa alam
semesta mungkin mengembang dan berlawanan dengan model alam semesta yang
statis seperti yang diadvokasikan oleh Einstein pada saat itu. Pada tahun 1924, pengukuran Edwin Hubble akan jarak nebula spiral terdekat
menunjukkan bahwa ia sebenarnya merupakan galaksi

lain. Georges
Lemaître kemudian secara independen menurunkan persamaan Friedmann
pada tahun 1927 dan mengajukan bahwa resesi nebula yang disiratkan oleh
persamaan tersebut diakibatkan oleh alam semesta yang mengembang.

Pada tahun 1931 Lemaître
lebih jauh lagi mengajukan bahwa pengembangan alam semesta seiring
dengan berjalannya waktu memerlukan syarat bahwa alam semesta mengerut
seiring berbaliknya waktu sampai pada suatu titik di mana seluruh massa
alam semesta berpusat pada satu titik, yaitu "atom purba" di
mana waktu dan ruang bermula.

Mulai dari tahun 1924, Hubble mengembangkan sederet indikator jarak
yang merupakan cikal bakal tangga
jarak kosmis menggunakan teleskop Hooker 100-inci (2.500 mm)
di Observatorium
Mount Wilson. Hal ini memungkinkannya memperkirakan jarak antara
galaksi-galaksi yang pergeseran merahnya telah diukur, kebanyakan oleh Slipher.
Pada tahun 1929, Hubble menemukan korealsi antara jarak dan kecepatan
resesi, yang sekarang dikenal sebagai hukum
Hubble
.Lemaître

telah menunjukan bahwa ini yang diharapkan, mengingat prinsip kosmologi.


Satelit WMAP

Semasa tahun 1930-an, gagasan-gagasan lain diajukan sebagai kosmologi
non-standar untuk menjelaskan pengamatan Hubble, termasuk pula model Milne,alam
semesta berayun (awalnya diajukan oleh Friedmann, namun
diadvokasikan oleh Albert Einstein dan Richard
Tolman) dan hipotesis cahaya lelah

(tired light) Fritz Zwicky.

Setelah Perang Dunia II, terdapat dua model
kosmologis yang memungkinkan. Satunya adalah model
keadaan tetap Fred Hoyle, yang mengajukan bahwa materi-materi
baru tercipta ketika alam semesta tampak mengembang. Dalam model ini,
alam semesta hampirlah sama di titik waktu manapun. Model lainnya
adalah teori dentuman besar Lemaître,
yang diadvokasikan dan dikembangkan oleh George
Gamow
, yang kemudian memperkenalkan nukleosintesis dentuman besar (Big
Bang Nucleosynthesis
, BBN) dan yang kaitkan oleh, Ralph Alpher

dan Robert
Herman, sebagai radiasi latar panjang gelombang kosmis (cosmic
microwave background radiation
, CMB). Ironisnya,
justru adalah Hoyle yang mencetuskan istilah big bang untuk
merujuk pada teori Lemaître dalam suatu siaran radio BBC pada bulan
Maret 1949. Untuk
sementara, dukungan para ilmuwan terbagi kepada dua teori ini. Pada
akhirnya, bukti-bukti pengamatan memfavoritkan teori dentuman besar.
Penemuan dan konfirmasi radiasi latar belakang mikrogelombang kosmis
pada tahun 1964 mengukuhkan dentuman besar
sebagai teori yang terbaik dalam menjelaskan asal usul dan evolusi
kosmos. Kebanyakan karya kosmologi zaman sekarang berkutat pada
pemahaman bagaimana galaksi terbentuk dalam konteks dentuman besar,
pemahaman mengenai keadaan alam semesta pada waktu-waktu terawalnya, dan
merekonsiliasi pengamatan kosmis dengan teori dasar.


Berbagai kemajuan besar dalam kosmologi dentuman besar telah dibuat
sejak akhir tahun 1990-an, utamanya disebabkan oleh kemajuan besar dalam
teknologi teleskop dan analisa data yang berasal dari
satelit-satelit seperti COBE,
Teleskop luar angkasa Hubble
dan WMAP

Sumber:
Wikipedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar